Kamis, Feb 25, 2021

CIK: Ancaman Kepunahan Islam Jawa di Tengah Arus Islam Transnasional

Tulungagung. Sejarah pengislaman di Jawa sebetulnya merupakan proses yang sampai sekarang belum selesai. Demikian disampaikan Ulil Abshar-Abdalla, mengutip tesis Prof. M.C. Ricklefs tentang proses Islamisasi di tanah Jawa mulai dari Zaman Majapahit sampai sekarang Era reformasi, dalam mengawali Ceramah Ilmiah dan Kebudayaan, Rabu (23/5) pagi. Diskusi yang diselenggarakan oleh Institut Transvaluasi Jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah ini mengundang Ulil Abshar-Abdalla sebagai narasumber dengan tema “Ancaman Kepunahan Islam Jawa di Tengah Arus Islam Transnasional” yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan civitas academica IAIN Tulungagung.

Ceramah ini adalah episode kedua dari seri Ceramah Ilmiah dan Kebudayaan dengan tema “Islam Jawa dalam Arus Islam Transnasional”. Pada episode pertama yang diselenggarakan pada 25 April 2016, narasumber yang hadir adalah Dr. Ahmad Zainul Hamdi dengan tema “Pasang Surut Islam Jawa: Peta Kajian Indologi dan Indonesianis tentang Islam Jawa sejak Clifford Geertz hingga Mark R. Woodward”.

Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, M.Ag., dalam sambutan pembukaannya memaparkan adanya ragam tradisi keislaman di setiap daerah di nusantara. Pusat peradaban di masing-masing daerah tergantung pada letak geografis (gunung, laut, dataran), sehingga perbedaan itu akan menimbulkan keragaman terhadap Islam yang berkembang di nusantara. “Di bumi Jawa, setiap agama yang berkembang itu, tentu akan mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan tradisi dan adat tertentu. Maka, yang disebut sebagai kearifan tentu amat berbeda antar bangsa”, ujarnya.

Masih mengutip dari buku Prof. M.C. Ricklefs, Ulil Abshar-Abdallah menguraikan dengan panjang lebar dan detail tentang 3 tahap penyebaran Islam di tanah Jawa yang terbagi dalam tiga periode. Periode pertama, dimulai ketika Islam masuk ke nusantara pada abad ke-14, dan puncaknya ketika Sultan Agung menjadi penguasa Mataram (1613-1646), dengan menyebut diri “sultan” dan bergelar “khalifatullah zhillullah fil ardhi.” Periode ini disebut “sintesis mistik” dengan tiga pilar: 1) Orang Jawa itu identik sebagai orang Muslim; 2) Menjalankan lima rukun Islam; dan 3) penerimaan pada tradisi lokal tentang kepercayaan pada Nyai Roro Kidul dan makhluk supranatural lainnya.

Periode keduaterjadi pada masa penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1830, dimulailah fenomena orang Jawa naik haji. Muslim Jawa berhaji dan belajar agama di Timur Tengah, dan mulailah mengenal syariat dan aqidah. Santri-santri Jawa mulai berkenalan dengan ajaran salafus salih dari pemikir dan teolog dari Timur Tengah seperti Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Ajaran salafus salih adalah gagasan yang mengajak umat Islam kembali kepada ajaran murni, atau purifikasi. Sejak saat itu berlangsunglah polarisasi Islam dan Jawa. Mulai ada persaingan antara Jawa dan Islam.

Periode ketigadimulai pada 1930, dimana polarisasi ini terus berlangsung dan mengental pada masa pergerakan nasional. Kalangan elite dari masing-masing pihak menggalang massa dalam beragam organisasi sosial dan politik seperti Serikat Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama’ (NU) di satu pihak (santri) dan Partai Nasional Indonesia (PNI) atau Partai Komunis Indonesia (PKI) di pihak lain (abangan). Periode ini berlangsung sejak era pergerakan nasional, Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi saat ini.

Sejarah panjang Islam di Jawa mulai dari Zaman Majapahit, Kerajaan Mataram, Zaman Kolonial, Masa Pergerakan Nasional, sampai Era reformasi, kurvanya naik turun. Tetapi kecenderungannya menunjukkan bahwa Islam a la syariat semakin kuat dan Islam a la Jawa makin lemah. Ini ditandai dengan semakin banyaknya gerakan formalisasi syariat.

Ulil Abshar-Abdalla menutup kisah sejarah Islamisasi di Jawa dengan munculnya Islam Nusantara. Menurutnya, gagasan Islam Nusantara yang lahir pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, 2015, adalah bentuk upaya untuk mempertahankan sisa-sisa Islam a la Jawa. Wacana Islam Nusantara adalah perjuangan untuk menegakkan kembali identitas Islam khas Jawa. Meskipun namanya Islam Nusantara, tetapi elemen pentingnya adalah Islam Jawa.

Islam Nusantara itu penting, karena Islam ala NU itu merupakan jalan tengah antara Islam Abangan a la Jawa dengan Islam Syariat a la Timur Tengah. Islam Nusantara adalah upaya untuk melawan ‘ekspansi’ corak Islam a la Timur Tengah. Karena itu, Ulil Abshar-Abdalla menganjurkan orang-orang kebatinan Jawa berkoalisi dengan NU untuk menangkal ekspansi dari orang2 Islam transnasional.[*]