Kamis, Feb 25, 2021

FUAD Terima Kunjungan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

Tulungagung. Sejumlah dosen dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga menyambangi Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Tulungagung pada Rabu, 19 April 2016. Rombongan terdiri dari 6 orang, yakni Dadi Nurhaedi, S.Ag., M.Si., Indal Abror, M.Ag., Dr. Saifuddin Zuhri, Achmad Dahlan, Lc., M.A., Ali Imron, S.Th.I., M.S.I., dan Dr. M. Alfatih Suryadilaga. Kunjungan ini dikemas dalam sebuah acara Diskusi Akbar dengan tema ”Dinamika Pemahaman Qur’an Hadist dari Klasik hingga Kontemporer” yang dipersiapkan oleh HMJ Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUAD IAIN Tulungagung.  Acara ini dihadiri oleh mahasiswa FUAD dan khususnya mahasiswa Jurusan IAT.

Dekan FUAD, Dr. Abad Badruzaman, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para dosen yang memiliki kepakaran dalam Ilmu Hadis dan Ilmu Al-Qur’an tersebut ke IAIN Tulungagung. Kedatangan rombongan diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang Ilmu Hadis dan Ilmu Al-Qur’an bagi mahasiswa FUAD. “Melalui forum ini, saya harapkan para narasumber dapat memberikan motivasi kepada segenap mahasiswa FUAD khususnya Jurusan IAT bahwa jurusan dan konsentrasi yang mereka pilih merupakan pilihan tepat,” ujar Dekan.

Acara yang berlangsung di Aula Utama IAIN Tulungagung ini dipandu oleh Ketua Jurusan IAT, Dr. Salamah Noorhidayati. Masing-masing narasumber memberikan orasi singkat terkait dengan tema acara. Diawali oleh Dr. M. Alfatih Suryadilaga yang mengulas tentang perbedaan Al-Qur’an dan Hadis. Bila diibaratkan sebuah makanan, maka Al-Qur’an itu adalah jenis makanan yang sudah siap dimakan. Berbeda dengan Hadis yang masih harus diproses terlebih dahulu.

Lalu Indal Abror, M.Ag. memberi penjelasan lanjutan tentang Hadis. Bahwa status tiap-tiap Hadis yang belum matang pun berbeda. Bila diibaratkan, ada Hadis yang baru sampai tahap sebagai padi, gabah, beras, dan nasi. Pada tahap sebagai nasi pun, masih harus didampingi lauk agar lezat. Artinya, ketika membaca sebuah hadis, maka kita terlebih dahulu harus menelusuri kualitas hadis tersebut, serta konsistensi Hadis dengan muqarin (sumber pendamping) lain.

Antusisme mahasiswa nampak dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan. Kesemua pertanyaan dijawab oleh para narasumber. Acara ditutup dengan penyerahan suvenir kepada para narasumber.[*]