Sabtu, Mar 06, 2021

Training Workshop tentang Dialog Lintas Agama dan Budaya

Dialog antar umat beragama merupakan sarana penting untuk menumbuhkan pengenalan yang lebih mendalam kepada orang lain dan kemudian melahirkan kepeduliaan kepada sesama manusia. Mengapa diperlukan kepeduliaan itu? Jawabannya jelas, yakni: ada berbagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kerja-sama. Agar  kerja sama itu terjadi yang pertama dilakukan adalah saling mengenal dan saling memahami.

 

Demikian disampaikan Yusuf Daud, anggota KAICIID International Fellows Programme, dalam Training Workshop yang diselenggarakan di Gedung Rektorat IAIN Tulungagung, pada hari Sabtu, 14 Nopember 2015. Tema acara ini adalah "Building Peace through Interreligious and Intercultural Dialogue". Acara ini merupakan kerjasama antara Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Tulungagung dengan King Abdullah Bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) dan Sophia Citra Institute. KAICIID adalah sebuah organisasi internasional yang memiliki misi mempromosikan dialog untuk membantu manusia memahami dan menghargai ragam agama dan budaya yang ada di dunia. Sedangkan Sophia Citra Institute adalah pusat kajian filsafat dan tasawuf yang concern pada dialog antar agama dan budaya.

Turut berpartisipasi dalam acara ini adalah tokoh dan pemuka agama di wilayah Tulungagung. Di antaranya adalah dari Pdt Samuel Samseini dari Gereja Pantekosta, Bapak Kasah dari agama Hindu, perwakilan dari  Gereja Santa Maria, Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Tulungagung, Vihara Buddhaloka, serta perwakilan dari ormas Islam di Tulungagung. Mahasiswa dan dosen dari Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah mewakili peserta dari internal IAIN Tulungagung.

Dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah pada pukul 8:30, rangkaian acara diklat ini berjalan lancar hingga selesai. Yusuf Daud memberikan ulasana tentang isu-isu dalam bidang dialog antar agama dan budaya, di antaranya adalah tentang urgensi studi agama dan perdamaian, agama dan perdamaian dalam perspektif agama dan kepercayaan di Indonesia, agama dan media (hate speech, UU ITE, media sosial), dan kiat-kiat menjadi mediator dan fasilitator dalam peace-building. Antusisasme peserta nampak dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber, juga tidak sedikit peserta yang membagi pengalamannya dalam hal membangun perdamaian dan dialog antar agama.

Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah dalam sambutannya menyatakan bahwa dalam training ini hanya satu kata yang diajarkan: Cinta. "Kami percaya benang penyulam yang mempersatukan agama-agama adalah benang cinta. Tali yang mengikat agama-agama adalah tali cinta. Pita merah yang menjalin satu agama dengan lainnya adalah pita cinta. Kami sepakat, di ruangan tempat training, kami mengarahkan semua pembicaraan, pembahasan, diskusi, dialog, tanya-jawab; semua bertolak dari cinta dan bergerak pasti ke arahnya. So, we believe that dialogue among people of different religions and cultures is the path to lasting peace and social cohesion," tegasnya.

Acara ini diharapkan akan menjadi titik awal dari cita-cita Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Tulungagung untuk menjadi agen perdamaian dan motor dalam gerakan dialog lintas agama dan budaya baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional. Semoga.[*]