Rabu, Nov 20, 2019

Kehangatan Dolan Keakraban (DOKRAB) Psikologi Islam 2019

Sabtu, 31 Desember 2019 adalah hari pertama pelaksanaan dokrab mahasiswa baru Psikologi Islam. Dokrab diadakan selama dua hari, yaitu tangal 31-01 Desember 2109 yang dilaksanakan di Alas Maliran, Kabupaten Blitar. Dokrab sendiri dalam psikologi bertujuan untuk merekatkan antara yang senior dan junior, agar tidak ada pembeda antara yang lama dan baru.

Dokrab tersebut diikuti oleh 165 mahasiswa baru yang tergabung dari lima kelas, yaitu kelas A hingga kelas E. Adapun rangkaian acara dari dokrab tersebut yaitu sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua HMJ, Sekjur dan terakhir yaitu sambutan dari Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah V (Jawa timur, Bali dan Nusa Tengara). Kemudian ada materi yang disampaikan oleh Robbi mahasiswa Psikologi Islam semester V, selanjutnya ada pertunjukan pensi, outbond dan yang terakhir yaitu observasi.

Meskipun sebagian dari seluruh total mahasiswa baru tidak mengikuti dokrab tersebut namun okta mahasiswa baru dari kelas PI D mengungkapkan bahwa “Dokrab kali ini sangat menarik dan menyenangkan, karena kita tidak hanya diberi materi namun kita juga diizinkan untuk bersosialisasi dengan masyarakat setempat, yaitu masyarakat maliran dan kita juga bisa bermain dan melihat rusa yang berada ditempat tersebut”. 

Alfa, selaku Ketua Pelaksana dari dokrab kali ini juga menegaskan bahwa tujuan pemilihan lokasi dokrab di Alas Maliran Kabupaten Blitar, agar mahasiswa tidak hanya mengetahui materi-materi perkuliahan saja. Mahasiswa diharapkan juga dapat bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu Alfa juga mengatakan bahwa di Alas Maliran mahasiswa baru dapat ilmu ganda yaitu tentang “Edukatif, Ekologi, dan Entertainment” yang mana ekologi sendiri merupakan lanjutan dari PBAK Fakultas, sehinga ilmu yang mereka dapat dari PBAK Fakultas tidak hanya sia-sia.

Harapan dari Dolan Keakraban kali ini adalah bagaimana mahasiswa baru bisa memiliki jiwa solidaritas yang tinggi sesuai dengan tema “Solidarity of Psychology”. Mahasiswa juga diharuskan untuk memiliki jiwa toleransi terhadap rekan ataupun teman sejawat nya. Mengingat saat ini banyak sekali kasus-kasus yang terjadi dikarenakan kurangnya rasa toleransi dan solidaritas. Ketika mereka sudah mampu menyeimbangkan antara toleransi dan solidaritas maka mereka tidak diperkenankan untuk berlebih-lebihan atau yang kita kenal dengan fanatik. Mengapa fanatik sendiri dilarang dalam psikologi? Karena berdasarkan teori sifat fanatik atau berlebih-lebihan merupakan salah satu gangguan yang mana dapat menyebabkan traumatik pada usia dewasa menengah atauapun akhir.

Berkembang atau tidak suatu jurusan tergantung bagaimana peran mereka yang berada dalam jurusan tersebut. Bukan hanya kemampuan IQ saja, namun yang paling penting bagaimana kita bisa meletaakkan diri kita dilingkungan masyarakat, dan bisa memberikan perubahan pada mereka. Satu pesan terakhir dari tulisan ini jangan pernah merasa paling rendah, karena sesungguhkan setiap manusia mempunyai kemampuan yang harus terus digali dan dikembangkan.