Selasa, Aug 20, 2019

Klinik Menulis Tafsir Tematik sebagai Langkah Awal Membudayakan Kepenulisan

Tulungagung – Sabtu, 27 April 2019 Pusat Studi Alquran dan Hadis (PSQH) IAIN Tulungagung mengadakan acara “Klinik Menulis Tafsir Tematik” yang dipandu oleh Fadhli Lukman yang dimulai sejak pukul 09.00 hingga 16.00. Fadhli Lukman merupakan alumni S1 dan S2 UIN Sunan Kalijaga jurusan Tafsir Hadis (TH). Saat ini, Fadhli sedang menjalani studi S3 di Department of Islamic Studies, Albert-Ludwigs-Universität Freiburg Germany dengan jurusan IAT yang berkonsentrasi pada terjemahan Alquran.

Di usianya ke 29 tahun ini, Fadhli telah menulis kurang lebih 18 artikel yang berhasil dipublikasi, dan satu buah buku. Selain sebagai penulis, ia juga seorang editor, salah satu karyanya berjudul Surau Parabek: Menapak Sejarah. Sedangkan artikel terbarunya berjudul Digital Hermeneutics and A new Face of the Qur’an Commentary: The Qur’an in Indonesia’s Facebook yang terbit satu tahun lalu.Fadhli, sengaja diundang oleh PSQH untuk memberikan gambaran dan arahan terhadap kader-kader IAT mengenai kepenulisan tafsir Alquran di media online khususnya website.

Adrika Fithrotul Aini selaku Direktur PSQH menyampaikan dalam sambutannya, dengan diundangnya Fadhli, diharapkan para peserta dapat menyerap ilmu tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Serta bagaimana menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan terutama tafsir tematik.

Dalam muqaddimahnya, Fadhli mengatakan bahwa menulis merupakan tanda seseorang sedang berpikir dan berfungsi untuk mensistematika pikiran. Ide sederhana maupun kompleks harus disampaikan dengan sederhana. Fadhli menambahkan, “Menulis tidak bisa dipisahkan dengan membaca. Keduanya seperti dua sisi mata uang. Apa yang kita tulis itu berasal dari apa yang kita baca.”

Menurutnya, membaca adalah mengelaborasi kata-kata. Sedangkan menulis adalah menyampaikan kata-kata. Untuk menghasilkan sebuah tulisan, terdapat persiapan yang harus dipenuhi yaitu memiliki target pembaca, tema yang jelas susunannya, dan target tujuan. “Menulis ibarat mendaki gunung, jadi harus menyiapkan alat-alatnya seperti carrier (tas gunung). Setelah siap, ya melangkah aja”, tambah Fadhli.

Sesi pertama ditutup dengan jawabannya terhadap beberapa mahasiswa yang bertanya mengenai bagaimana cara membangun semangat dan istiqomah dalam menulis. “Pertama yang harus dilakukan adalah menyadari diri sebagai mahasiswa, dan harus punya target.” Kemudian ada lagi yang bertanya, “Bagaimana ketika membaca justru mengalami kebingungan?”. Ia menambahkan, “Justru kebingungan karena membaca lebih baik daripada kebingungan karena tidak membaca. Yang harus dilakukan adalah menikmati kebingungan tersebut dan belajar menuliskannya. Nanti, lama-kelamaan pemahaman akan datang sendiri seiring kita mau menyampaikannya.”

Sesi pertama selesai pukul 12.00 dan sesi kedua dimulai pukul 13.00. Banyak sekali tips-tips sederhana yang didapatkan dan bisa diterapkan tidak hanya ketika menulis tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata Mutiara yang disampaikan Fadhli sangat mengena, “Menulis itu membuat sesuatu menjadi simple/sederhana. Sederhana itu penting. Karena kesederhanaan adalah keindahan”, ungkapnya.

Di akhir penyampaian, ia memberikan materi terkait cara menulis tafsir di media online. Lalu, lebih mengerucut lagi pada pembahasan ayat-ayat pilihan, tafsir tematik, dan klarifikasi terjemahan. Sebagai penutup, para peserta diberi waktu beberapa menit untuk praktek menulis satu paragraf pengantar. Masing-masing memilih satu kata/muradif tertentu untuk dibedah maknanya secara konteks Indonesia maupun bahasa Arab. Dengan harapan apa yang telah dipilih tersebut akan dilanjutkan sebagai langkah awal untuk mencapai target menulis buku karya PSQH dengan tema yang bernafaskan tafsir nusantara. Sehingga akan menjadi ciri secara khusus bagi pusat studi dan secara umum bagi IAIN Tulungagung sebagai Kampus Dakwah dan Peradaban. Salam.(psqh/ern)