Rabu, Sep 20, 2017

Malam Kebersamaan

Ketika banyak dari kita masih saja berantem memperebutkan "kebenaran" seputar Ahok Surahok Markohok Melohok, anak-anak FUAD (Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah) IAIN Tulungagung lebih memilih mengadakan dialog lintas iman dan doa bersama, tadi malam 16 Nopember 2016 di Aula Utama IAIN Tulungagung. Tema yang mereka usung, "Meneguhkan Semangat Nasionalisme dalam Kebersamaan Lintas Iman."

Panitia inti acara ini adalah DEMA FUAD. Forum Perempuan Filsafat (FPF), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dimensi, dan Komunitas Gurdurian menyokong penuh sejak awal hingga kelar. Kecuali delegasi dari Penghayat, wakil dari Konghucu, Hindu, Budha, Katolik, Protestan, Islam dan bahkan Baha'i, semua datang dengan suka-cita terpancar dari wajah mereka.

Dekan FUAD didapuk memberi sambutan, membuka acara, sekaligus wakil dari Islam. Borongan!



Pertama, kita sedang berada di era di mana keutuhan NKRI sedang diuji begitu rupa. Kekerasan atas nama agama, gerakan Islam transnasional, kasus-kasus SARA mengancam keutuhan NKRI. Maka, antara lain, nasionalisme harus digalakkan kembali. Bukan hanya tidak berbenturan, kebangsaan dapat bergandengan bahkan memperkaya pengalaman keberagamaan.

Kedua, sebagai Muslim saya kadang merasa "malu". Dengan bangga kita menunjuk Islam rahmat bagi semesta, pemeluknya adalah sebaik-baik umat. Namun di tataran praksis, sikap merasa benar sendiri, ingin menang sendiri, kekerasan, bahkan terorisme acap diperagakan oleh segelintir umat ini. Sejenak saya ajak hadirin memanjatkan doa untuk Dik Intan Olivia Marbun.   

Ketiga, lewat forum ini saya mengajak semua yang hadir untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga keutuhan NKRI dengan menjadikan kebhinekaan sebagai tenaga pemersatu, bukan potensi pemecah-belah, sebagai kekayaan yang mengkayakan jiwa dan pengalaman, bukan kayu-bakar penyulut konflik horisontal.

Keempat, FUAD menahbiskan diri sebagai Fakultas Kemanusiaan sekaligus menjadi Rumah Besar bagi kemajemukan agama di mana diskusi, dialog, kesepahaman, dan kerjasama dijunjung tinggi dan dirumuskan di dalamnya. Kata ahli, radikalisme lebih merupakan hasil pemahaman, sedang toleransi dan kerjasama lebih sebagai hasil pengalaman. Maka itu, banyak-banyaklah bergaul secara lintas guna memperkaya pengalaman sehingga dengannya toleransi dan kedamaian lebih dekat lagi buat dijangkau dan dipetik bersama.